Laman

Minggu, 22 Mei 2016

Sang Waktu

“Kenapa waktu tak punya belas kasih membiarkanku seperti ini, andai waktu terulang.” Ini cerita tentang waktu yang selalu menempati posisi disalahkan posisi dituduh dengan (tak punya belas kasihan). Saat malam datang menghujung di suatu bangunan berlantai dua, duduk seorang gadis yang memandang langit dengan wajah teduh ia melihat purnama dan bintang-bintang kala malam itu di dalam sepi itulah ia merasa sedih, sementara detik waktu berlanjut sang waktu terdiam melihat si gadis yang sedih padahal saat pagi gadis tadi terlihat ceria,detik waktu pun masih berlanjut, sang waktu menghela nafas panjang melihat si gadis dan menemaninya meski ia tahu si gadis tak akan tahu keberadaanya perlahan ia membuka suara meski ia tahu gadis itu tak kan pernah mendengarnya “Manusia, manusia ..”ia berbicara sendiri “patutkah kau sekarang bersedih,sedang kau melalui hari-hari nan bahagia, padahal ku senang melihat mu tertawa kau tahu manusia.. andai aku kuasa mengembalikan waktu kan ku kembalikan menuju masa bahagiamu agar tak melihat manusia sepertimu bersedih lagi.” Dan akhirnya sang waktu berlalu dengan setitik air mata yang jatuh ia telah banyak menjatuhkan air mata ia telah melewati banyak masa yang mana melihat pula banyak manusia bersedih sang waktu terus berlalu dan kita seolah berpikir bahwa ia tak peduli (tak punya belas kasih)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar