ku teringat saat lantunkan lagu terakhir untukku
di pembaringanmu saat kau lemah dengan wajah layu
hanya satu yang kutahu bahwa ajal kan menjemputmu
dengan nada serak ku tuntun menuju talqinmu
isak tangis saat kau hembuskan nafas terakhirmu
duka mendera saat kau telah tiada
bulir air mata yang menghunus jiwa dalam raga
derai kesedihan saat kau pergi tinggalkan dunia
matahari tampak enggan menggiringmu ke pemakaman
rintik air hujan yang menyapu jalan penuh erangan
perlahan namun pasti menyertaimu menuju rumahmu
lubang lahat penuh ulat dan gelap jadi sangkarmu
entah mengapa mentari tak kunjung muncul
entah menutupi tangisnya di belahan awan
meskipun fajar pagi sudah mulai menyusup hilang
namun sinarnya tak kunjung datang
satu persatu peziarah mulai uzur
pergi meninggalkan bunga yang tergugur
disusul deras air hujan yang mengguyur
namun tubuh ini masih tak mau kabur
Tidak ada komentar:
Posting Komentar